• Agustus 13, 2021

TBC Bukan Keturunan, Ini yang Perlu Diperhatikan

Banyak orang menilai tuberkulosis atau TBC salah satunya karena keturunan. Tapi ternyata itu tidak benar. Koordinator Substansi Tuberkulosis Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung (P2PML) Kementerian Kesehatan, dr. Tiffany Tiara Pakasi, menegaskan tuberkulosis bukan penyakit keturunan tetapi masalah kesehatan yang ditularkan dari satu orang ke orang lain.

“Ini bukan penyakit keturunan tetapi ketularan atau menular,” katanya.

Penyakit dengan sifat kronis ini disebabkan infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis yang menyerang organ pernapasan seperti paru-paru, organ vital lain, misalnya otak, tulang, kulit, kelenjar getah bening, bahkan organ-organ lain. Gejala yang muncul umumnya meliputi demam, pusing, tidak enak badan, batuk berdahak, nafsu makan berkurang, yang menyebabkan berat badan turun pada anak-anak. Menurut Tiara, saat seseorang atau anggota keluarga mengalami gejala-gejala itu lebih dari dua pekan maka saatnya curiga risiko tuberkulosis.

“Gejalanya kita harus curiga kalau ada kejadian lebih dari dua minggu, berbeda dari COVID-19 yakni demam sumeng, tidak tinggi tapi hangat, tidak enak badan, batuk umumnya berdahak, nafsu makan kurang, sampai akhirnya lama-lama berat badan bisa menurun, apalagi pada anak-anak,” katanya.

Selain itu, gejala umum lain yang juga ditemukan pada pasien yakni berkeringat di malam hari padahal dia tak melakukan aktivitas fisik cukup berat. Siapa saja bisa terkena tuberkulosis mulai dari balita, anak, remaja, sampai lansia. Pada anak, TBC biasanya ditularkan dari orang dewasa di sekitar. Oleh karena itu, mengobati tuberkulosis pada orang dewasa hingga selesai menjadi penting.

“Kalau anak-anak kena tuberkulosis, pasti sumber penularan orang dewasa yang ada di sekitar sehingga memang risiko kita atau double risk-nya kalau tidak menemukan dan mengobati pasien dewasa, misalnya adalah anak-anaknya berpotensi tertular,” tutur Tiara.

Pemerintah menargetkan penurunan kasus tuberkulosis pada tahun 2030 menjadi 65 per 100.000 penduduk dan penurunan angka kematian enam per 100.000 penduduk. Berdasarkan strategi penanggulangan TBC 2020-2024, ada enam hal yang dilakukan untuk mencapai ini, penguatan kepemimpinan, akses, pengendalian infeksi, pengobatan, peningkatan peran, serta komunitas dan pemanfaatan hasil riset dan teknologi skrining, diagnosis dan tatalaksana tuberkulosis.

Mereka yang terkena tuberkulosis perlu mendapatkan pengobatan tepat hingga selesai sesuai rekomendasi tenaga kesehatan. Pengobatan tak teratur bisa berujung masalah baru, salah satunya TBC resisten obat yang jumlahnya kini mencapai 4.590 kasus dari 7.921 kasus tuberkulosis yang terkonfirmasi, menurut data pada April 2021.

Pada kasus tuberkulosis resisten obat, bakteri sudah kebal terhadap obat antituberkulosis lini pertama akibat pasien tidak berobat teratur, bukan hanya seminggu tapi bisa berbulan-bulan. Akibatnya, obat jadi berbeda, gejala jadi berat, dan minum obat lebih lama, bisa sampai 2 tahun.

Pengobatan tuberkulosis membutuhkan waktu cukup panjang sehingga motivasi pasien harus terjaga dan ini perlu dukungan dari keluarga agar dia tak enggan meminum obat lalu berpotensi menularkan TB. Selain obat, asupan makanan bergizi juga dibutuhkan.

Tiara mengakui nafsu makan biasanya berkurang pada masa awal pasien sakit dan belum diobati. Tetapi, setelah dua pekan hingga sebulan dia dinyatakan negatif, nafsu makan perlahan membaik. Saat itulah, asupan makanan bergizi perlu didorong, juga menjalani gaya hidup sehat lain, seperti beristirahat yang cukup, melakukan aktivitas fisik rutin, dan rajin berjemur.

Dalam pengobatan, pasien juga sebaiknya tidak diberi stigma karena bisa membuatnya semakin malas meminum obat. Tuberkulosis masih mendapat stigma sebagai pasien yang kurang baik dan identik dengan kaum miskin. Belum lagi hoaks yang beredar mengaitkannya dengan COVID-19. Tiara mengingatkan pentingnya mendukung pasien tuberkulosis dalam pengobatan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.